
Makassar, Celoteh.Online – Upaya menurunkan angka stunting di Sulawesi Selatan terus menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Dinas Kesehatan Sulsel menargetkan penurunan signifikan hingga akhir tahun ini, setelah data menunjukkan angka prevalensi masih cukup bervariasi antar kabupaten dan kota.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2024, Kabupaten Jeneponto mencatat prevalensi stunting tertinggi sebesar 37 persen, disusul Enrekang (34,3 persen) dan Sinjai (28,6 persen).
Sementara itu, wilayah dengan angka terendah berada di Gowa (17 persen), diikuti Sidrap (20,3 persen) dan Wajo (20,5 persen).
Baca Juga : Pemkab Wajo Lewat Program Gemar Makan Telur, Bupati : Langkah Konkret Cegah Stunting
Kota besar seperti Makassar (22,9 persen) dan Palopo (22,7 persen) berada sedikit di atas rata-rata provinsi yang tercatat sebesar 23,3 persen.
Angka ini menunjukkan penurunan cukup signifikan jika dibandingkan dengan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) sebelumnya, di mana prevalensi stunting di Sulsel mencapai 27,4 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Ishaq Iskandar, menyebutkan bahwa pihaknya menargetkan angka stunting turun menjadi 19 persen pada akhir 2025. Menurutnya, target ini tidak mudah dicapai tanpa kolaborasi lintas sektor dan dukungan seluruh elemen masyarakat.
Langkah awal yang dilakukan Dinas Kesehatan ialah melakukan pendataan dan identifikasi balita stunting di seluruh kabupaten/kota. Setelah itu, dilakukan intervensi berupa pemberian makanan tambahan (PMT) serta edukasi kepada ibu dan keluarga terkait pola makan bergizi seimbang.
“Program PMT ini bukan sekadar memberi makanan, tapi juga bentuk stimulasi agar masyarakat belajar tentang pola makan bergizi seimbang,” ujarnya.dihubungi pada rabu 29/10/2025.
Baca Juga : Rakor TPPS Makassar, Aliyah Mustika Ilham Serukan Kerja Nyata Atasi Stunting
Selain menyasar balita, edukasi gizi juga diberikan kepada ibu hamil agar kebutuhan nutrisi selama masa kehamilan dapat terpenuhi. Menurut Ishaq, perhatian terhadap periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi kunci utama pencegahan stunting.
Tak hanya itu, berbagai gerakan kolaboratif juga digalakkan. Mulai dari Gerakan Makan Telur, Gerakan Orang Tua Asuh untuk Anak Stunting, program Dahsyat BKKBN, hingga Rumah Gizi oleh PKK di berbagai daerah.
“Ini butuh kolaborasi semua stakeholder. Kalau bisa mencapai 14 persen, tentu lebih bagus lagi. Kita terus dorong melalui aksi Stop Stunting,” kata Ishaq.
Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman juga menegaskan komitmennya dalam mempercepat penurunan angka stunting di daerah. Ia mengungkapkan bahwa sebanyak 15.120 anak stunting di Sulsel telah menerima bantuan insentif sebesar Rp1 juta per anak sebagai bagian dari program percepatan penanganan stunting.
Stunting sendiri merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah usia lima tahun akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Selain menyebabkan tinggi badan di bawah standar, stunting juga berisiko menurunkan kemampuan kognitif dan motorik anak, bahkan berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Pemerintah Sulsel kini optimistis dapat menurunkan prevalensi stunting hingga di bawah 14 persen, selaras dengan target nasional 2025, dan bergerak menuju visi 2045 di mana prevalensi stunting ditargetkan hanya 6,1 persen.
Baca Juga : Kolaborasi Lintas Sektor, Makassar Mantapkan Langkah Cegah Keracunan MBG
Data Prevalensi Stunting Sulsel 2024 (Dinkes Sulsel):
Jeneponto: 37%
Enrekang: 34,3%
Sinjai: 28,6%
Toraja Utara: 27,6%
Tana Toraja: 27,5%
Barru: 26,9%
Soppeng: 26,6%
Parepare: 26,1%
Bone: 26%
Selayar: 25,7%
Pangkep: 25,2%
Bulukumba: 25,2%
Bantaeng: 24,3%
Takalar: 24%
Luwu Utara: 23,6%
Luwu: 23,6%
Makassar: 22,9%
Palopo: 22,7%
Maros: 22,4%
Pinrang: 22,2%
Luwu Timur: 21,8%
Wajo: 20,5%
Sidrap: 20,3%
Gowa: 17%.


Satu tanggapan untuk “Gowa Terendah, Jeneponto Tertinggi: Peta Lengkap Stunting Sulawesi Selatan 2024”
[…] Baca juga : Gowa Terendah, Jeneponto Tertinggi: Peta Lengkap Stunting Sulawesi Selatan 2024 […]
SukaSuka