
Makassar, Sulawesi Selatan – Penggunaan aksara Lontarak dalam Festival Museum LAGALIGO menjadi sorotan tajam. Aksara yang dikenal sebagai warisan budaya berharga masyarakat Sulawesi Selatan ini justru dinilai diciderai oleh pihak penyelenggara. Dalam kegiatan tersebut, aksara Lontarak diubah sedemikian rupa hingga menyerupai tulisan Latin bertuliskan “Festival Museum”.
Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) mengkritik keras tindakan ini, menyebutnya sebagai bentuk modernisasi kearifan lokal yang merusak dan tidak menghormati nilai budaya. Salah satu mahasiswa, Asmin, menegaskan bahwa tindakan ini merupakan fenomena yang menciderai jati diri aksara.
“Hal ini mencerminkan sikap tidak menghormati peraturan daerah yang telah melindungi aksara Lontarak. Estetika tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan nilai sejarah dan budaya aksara kita,” ujar Asmin, yang juga aktif di Perkumpulan Pelestari Sastra dan Aksara Daerah.
Managing Director Batara Gowa Art Foundation, Don Redo, turut menanggapi melalui media sosialnya. Ia menyoroti kegagalan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulawesi Selatan dalam menjaga keaslian aksara Lontarak.
“Mengubah aksara menjadi font tanpa makna menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap warisan budaya. Ini adalah masalah serius yang merendahkan nilai sejarah Lontarak dan memperburuk citra kebudayaan kita,” tulisnya.
Redo juga menyinggung Indeks Pembangunan Kebudayaan Sulawesi Selatan yang masih di bawah rata-rata nasional. Menurutnya, hal ini mencerminkan kurangnya keseriusan dalam menjaga budaya lokal.
Kritik ini menjadi peringatan bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulawesi Selatan untuk lebih berhati-hati dalam memanfaatkan elemen budaya dalam kegiatan promosi. Ke depan, penggunaan aksara Lontarak diharapkan lebih memperhatikan keasliannya sebagai simbol identitas dan warisan luhur masyarakat Sulawesi Selatan.

